Review Film : Freedom Writers
Freedom Writers adalah film yang disutradai oleh Richard LaGravenese dan pertama kali ditayangkan pada tahun 2007. Film ini berkisah tentang Erin Gruswell (Hillary Swank) dan murid-muridnya di Long Beach, California pada tahun 1994.
Erin Gruswell adalah guru baru yang mengajar kelas 1 dan 2 di SMA Woodrow Wilson, yang selama 2 tahun terakhir menerapkan program integrasi sukarela. Bagi hampir seluruh guru lainnya, program ini mereka anggap sebagai sebuah program yang merusak reputasi SMA Woodrow Wilson, yang awalnya merupakan sekolah dengan banyak murid unggulan. Berkat program ini, sekolah harus secara sukarela menerima banyak murid bermasalah dari berbagai ras yang ada di daerah itu. Hampir anak-anak ini adalah anak-anak bermasalah yang tergabung dalam gang, bahkan sudah pernah dikirim ke penjara untuk remaja bermasalah. Saat itu di Long Beach, perseteruan antar ras terjadi dengan cukup hebat. Ras-ras yang bukan “kulit putih” seperti Latin, African-American, dan Asia Kamboja saling menyerang demi memperebutkan daerah kekuasaan dan apa yang mereka anggap sebagai “kehormatan ras”. Sudah banyak korban yang berjatuhan dari semua pihak, dan banyak terjadi ketidak adilan dan rasisme.
Erin sengaja memilih untuk mengajar di SMA Wodrow Wilson karena ia mengetahui adanya program integrasi sukarela ini. Meskipun di awal ia sudah sangat bersemangat dalam mengajar murid-muridnya, namun ia merasa sangat kecewa saat menyadari bahwa program ini benar-benar tidak seperti apa yang ia bayangkan. Bahkan program ini berjalan cukup kacau, karena guru-guru lain juga menilai murid-murid di kelas Erin sebagai pengacau yang tidak berhak mendapatkan pendidikan dan perhatian penuh.
Di kelas yang berisi berbagai ras itu, tiap kelompok saling membenci satu sama lain. Mereka juga awalnya tidak peduli dengan pendidikan karena menurut mereka, mereka sudah cukup beruntung karena bertahan hidup sejauh ini. Meskipun begitu, para murid kelas integrasi ini lebih membenci guru baru mereka, Ms. Gruswell, daripada satu sama lain. Satu-satunya hal yang mereka sepakati adalah bahwa mereka sama-sama membenci Gruswell. Mereka sama sekali tidak menghormatinya dan tidak berusaha untuk memperhatikan pelajaran sama sekali. Erin menjadi begitu gusar dan berpikir keras tentang bagaimana cara membantu murid-muridnya.
Ia mulai menyarankan sebuah metode. Ia membagikan buku diary untuk anak-anak di kelasnya. Mereka harus menulis setiap hari, tentang apapun, boleh tentang masa lalu, masa kini maupun masa depan. Ia akan memeriksanya, tapi hanya akan membacanya jika mereka memperbolehkannya. Dari sana ia mulai sedikit paham mengenai pengalaman dan hidup murid-muridnya. Tentang bagaimana mereka melihat temannya meninggal, bagaimana mereka disakiti di keluarganya, tentang bagaimana mereka masuk ke penjara anak-anak nakal dan banyak lagi.
Hingga suatu hari, salah satu murid membuat gambar yang mengolok-olok ras kulit hitam. Ms. Gruswell yang mengetahui hal ini menjadi sangat marah. Ia memarahi seluruh kelas. Ia bercerita bagaimana kekerasan terhadap ras tertentu sebelumnya telah mengakibatkan pembantaian masal. Ia bercerita tentang Holocaust dan bagaimana “permainan gang” mereka ini sama sekali belum ada apa-apanya. Murid-murid menjadi marah karena menganggap Ms. Gruswell tidak tahu apa-apa. Tapi saat Erin bertanya apa ada di antara mereka yang ingin tahu tentang Holocaust, seluruh kelas mengangkat tangan.
Erin kemudian berusaha membuat mereka lebih tertarik dengan pelajaran. Ia awalnya ingin memberi mereka buku-buku yang berkaitan dengan peperangan antar gang, tetapi pihak sekolah menilai bahwa memberi mereka buku hanya akan menyia-nyiakan inventaris. Begitu pula saat Erin berusaha mendekati guru lain untuk membantunya, tak ada satupun yang mau membantu.
Akhirnya Erin bekerja paruh waktu di tempat lain agar ia bisa membelikan murid-muridnya buku. Suami Erin mulai marah karena hal ini. Ia tidak suka Erin terlalu fokus pada murid-muridnya hingga sampai harus bekerja tambahan. Meskipun begitu Erin meyakinkan suaminya bahwa ia baik-baik saja dan ini tidak akan lama. Erin juga pergi mendatangi dewan pendidikan, ia meminta persetujuan agar ia boleh membelikan murid-muridnya buku dan mengajak mereka karyawisata sekolah ke Museum Toleransi yang menyimpan banyak bukti kekejaman Holocaust. Ia berjanji tidak akan meminta dana dari sekolah, tapi ia minta agar tidak ada yang menghalanginya.
Pertama ia memberikan murid-muridnya buku tentang pertarungan antar gang. Ia juga membawa kelasnya ke museum Holocaust untuk melihat secara langsung bukti kekejaman Holocaust. Bahkan ia menghadirkan beberapa korban Holocaust yang berhasil selamat dan hidup. Setelah itu mereka jadi lebih tertarik terhadap kisah-kisah yang membahas tentang ras dan pertarungan antar gang. Mereka juga semakin menghormati Ms. Gruswell. Kemudian Ms. Gruswell memberikan murid-muridnya buku “Diary of Anne Frank” tentang pengalaman seorang anak perempuan yang bersembunyi saat Holocaust.
Semua murid dengan cepat menjadi sangat tertarik dengan kisah ini. Mereka ingin agar Ms. Gruswell mengundang Miep Gies, orang yang membantu Anne Frank bersembunyi sekaligus mempublikasikan buku “Diary of Anne Frank”, untuk datang ke sekolah dan bercerita secara langsung kepada mereka. Meskipun Ms. Gruswell berusaha membuat mereka paham bahwa hal ini akan sangat sulit dilakukan karena Miep Gies yang sudah sangat lanjut usia tinggal amat jauh dari tempat mereka dan ini akan membutuhkan banyak dana, murid-murid Ms. Gruswell tidak menyerah. Mereka akhirnya mulai sadar bahwa pertarungan antar gang itu tidak ada gunanya. Mereka mulai akur. Bersama-sama mereka bekerja sama demi menggalang dana demi mengundang Miep Gies. Kisah perjuangan mereka pun mulai diliput oleh media. Hal ini cukup membuat pihak sekolah gempar, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan.
Tapi semua perjuangan ini tidak begitu saja dicapai tanpa pengorbanan. Erin sampai bercerai dengan suaminya karena suaminya tidak bisa bertahan dengan Erin yang mendedikasikan hampir seluruh waktunya untuk kelasnya.
Pertarungan terakhir mereka dalam film ini adalah saat mereka akan naik ke kelas 3. Mereka yang merasa bahwa tidak ada orang lain yang mau mendengarkan mereka selain Ms. Gruswell menolak untuk berpisah dengan guru kesayangan mereka. Meskipun begitu, sistem sekolah mengharuskan mereka untuk berpisah, karena guru baru tidak boleh mengajar kelas 3 dan 4. Ms. Gruswell kembali memarahi murid-muridnya yang dengan mudah menyerah hanya karena mereka tak akan lagi diajar olehnya. Ms. Gruswell memberi tahu mereka, bahwa apapun yang terjadi, mereka punya kesempatan untuk lulus dan menjadi orang yang sukses, siapapun gurunya. Sebelum berpisah, Ms. Gruswell menyuruh semua muridnya untuk menjadikan semua curhatan mereka yang selama ini mereka tuliskan, menjadi satu buku. Ia ingin murid-muridnya meninggalkan jejak. Ia tidak berjanji bahwa buku ini akan diterbitkan nantinya, tetapi paling tidak kisah mereka akan tercatat. Dari sinilah sebutan Freedom Writers diberikan Ms. Gruswell untuk murid-muridnya. Di saat yang sama, MS Gruswell juga berusaha berunding dengan dewan dan dengan pihak sekolah agar ia diijinkan terus mengajar kelas itu, tetapi tidak dikabulkan. Persoalan ini akhirnya mendapat perhatian dewan pendidikan dari pusat. Setelah negosiasi panjang, akhirnya Ms. Gruswell diijinkan menemani murid-muridnya di kelas 3 dan 4. Film berakhir dengan Ms. Gruswell yang berhasil membawa seluruh muridnya menuju kelulusan bahkan masuk ke Universitas. Mereka kemudian mendirikan yayasan Freedom Writers.
Film ini mengajarkan begitu banyak hal kepada para penontonnya. Yang pertama adalah tentang ketidaksetaraan dan diskriminasi antar ras yang terjadi secara nyata di California pada masa itu. Bagaimana kehidupan bisa menjadi sangat berbahaya hanya karena pertarungan antar ras. Tapi hal itu akhirnya dapat dijembatani saat masing-masing pihak mau mendengarkan pihak yang lain. Ms. Gruswell berhasil menyatukan seluruh kelas berkat kerja kerasnya.
Yang kedua tentu saja tentang pendidikan. Bagaimana Erin Gruswell berusaha sekuat tenaga agar murid-muridnya mendapatkan pendidikan yang berhak mereka dapatkan. Erin membuktikan bahwa seburuk apapun seorang murid, ia masih pantas mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan mereka bisa menjadi lebih baik dengan pendidikan yang layak.
Erin berhasil membangun kepercayaan dan rasa hormat dari muridnya setelah ia berusaha memahami apa yang mereka alami. Dengan ia menolak keras adanya rasisme dan perseteruan antar gang di kelasnya juga ia berhasil menegaskan autoritasnya sebagai guru. Ia juga membelikan semua muridnya buku yang sesuai dengan uang pribadinya karena ia ingin mereka mendapatkan pendidikan yang layak. Bahkan sampai membawa mereka ke Museum Toleransi. Pengetahuannya mengenai topik-topik yang sesuai dengan apa yang muridnya butuhkan dan caranya mengajar yang tidak seperti cara mengajar umum, namun sesuai dengan kondisi muridnya, juga membuatnya menjadi guru yang sangat dihormati oleh murid-muridnya. Dan mereka mampu percaya pada Ms. Gruswell karena ia adalah orang dewasa pertama yang mau mendengarkan kisah anak-anak itu.
Erin Gruswell bukan hanya percaya bahwa anak-anak bermasalah itu mempunyai masa depan, ia benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Ia tidak semata mengajarkan mereka materi pelajaran, tetapi juga moral dan nilai-nilai kehidupan. Ia tidak sekedar melihat mereka dari nilai akademisnya, tetapi juga dari psikologi dan perasaan mereka. Ia berusaha membuat pelajaran semenarik mungkin dan semudah mungkin agar bisa mereka pahami. Tidak hanya sekedar membaca dan menulis, ia bahkan membuat berbagai kompetisi kecil dalam kelas. Ia tidak hanya memberi mereka pendidikan, tetapi juga membangun moral dan pola pikir mereka. Ia membuat kelas mereka sebagai tempat di mana semua anak bisa bebas menjadi diri mereka tanpa perlu mengkhawatirkan ego, kehormatan ataupun ras.
Erin berhasil tidak hanya sekedar menjadi guru, tapi sosok yang benar-benar membantu anak-anak bermasalah ini menjadi orang-orang yang sukses dan memiliki masa depan yang lebih dari sekedar mati karena pertarungan gang.
Label: Film, Komunikasi, Review FIlm
Older Post | Newer Post